Materi jungle warfare yang saya pelajari di Daspa menjadi salah satu pengalaman paling berkesan. Dalam latihan ini, kami belajar bergerak sebagai satu regu yang terdiri dari 12 orang, dengan pembagian peran yang jelas dan tidak bisa ditawar.
Satu posisi yang paling menarik perhatian saya adalah WASKANG—pengawas belakang. Posisi ini berada di titik paling rawan. Jika lengah, seluruh regu bisa diserang dari arah yang tidak terduga. WASKANG bukan sekadar “orang terakhir”, tetapi penjaga keselamatan seluruh tim.
Perannya kompleks. Ia memastikan tidak ada ancaman dari belakang, sekaligus mengawasi jejak yang ditinggalkan regu. Setiap tanda kehadiran—rumput terinjak, bekas istirahat—harus dikembalikan seperti semula, seolah tidak pernah ada aktivitas di sana. Ini bukan sekadar teknik, tapi disiplin tingkat tinggi.
Saya melihat posisi ini seperti “tetua” dalam wolfpack. Ia tidak berada di depan untuk menyerang, tetapi di belakang untuk menjaga. Ia memastikan semua anggota tetap aman, tetap rapi, dan tetap terkontrol. Ketika garis belakang ditembus atau jejak terbaca musuh, posisi regu langsung berada dalam bahaya.
Dari sini saya menangkap satu hal utama: kekompakan tidak dibangun dari kata-kata, tetapi dari tanggung jawab individu yang dijalankan tanpa celah. Tidak ada ruang untuk bermalas-malasan, karena satu kelengahan bisa berdampak pada seluruh tim.
Jungle warfare bukan hanya tentang bertahan di medan hutan. Ini adalah pelajaran tentang disiplin, kepercayaan, dan kesadaran bahwa kekuatan tim ditentukan oleh seberapa serius setiap individu menjalankan perannya.